Keharusan Dan Kemungkinan Pendidikan

//Keharusan Dan Kemungkinan Pendidikan

KEHARUSAN DAN KEMUNGKINAN PENDIDIKAN
Anwar Sazali, S.Pd.I., M.Pd
Dosen STAIS TebingTinggi Deli

ABSTRACT

In this paper, we will examine three main problems, namely about nature human beings, educational imperatives and educational possibilities. Study in the main the first problem includes human origins, form and potential, as well as various dimension of his life. The study in the second subject concerns Anthropological principles as the assumption that humans need to be educated and educate self. The study in the third subject matter relates to principles anthropological as the assumption that humans may (can) be educated. Therefore After studying this learning activity you will be able to explain its nature humans, and can identify anthropological principles as assumptions educational necessities and possibilities.

Key words: human nature, education

1. Hakikat Manusia
    a. Manusia sebagai Makhluk Tuhan YME
Dalam perjalanan hidupnya manusia mempertanyakan tentang asal-usul alam semesta dan asal-usul keberadaan dirinya sendiri. Terdapat dua aliran pokok filsafat yang memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut, yaitu Evolusionisme dan Kreasionisme (J.D. Butler, 1968). Menurut Evolusionisme, manusia adalah hasil puncak dari mata rantai evolusi yang terjadi di alam semesta. Manusia – sebagaimana halnya alam semesta ada dengan
sendirinya berkembang dari alam itu sendiri, tanpa Pencipta. Penganut aliran ini antara lain Herbert Spencer, Charles Darwin, dan Konosuke Matsushita. Sebaliknya, filsafat Kreasionisme menyatakan bahwa asal usul manusia – sebagaimana halnya alam semesta -adalah ciptaan suatu Creative Cause atau Personality, yaitu Tuhan YME. Penganut aliran ini antara lain Thomas Aquinas dan Al-Ghazali. Kita dapat mengakui kebenaran tentang adanya proses evolusi di alam semesta termasuk pada diri manu-sia, tetapi tentunya kita menolak pandangan yang menya-takan adanya manusia di alam semesta semata-mata sebagai hasil evolusi dari alam itu sendiri, tanpa Pencipta. Penolakan ini terutama didasarkan atas keimanan kita terhadap Tuhan YME sebagai Maha Pencipta. Adapun secara filosofis penolakan tersebut antara lain didasarkan kepada empat argumen berikut ini, sebagaimana dikemukakan oleh Tatang Syaripudin (2008; 9-10), yaitu sebagai berikut:
1) Argumen ontologis: Semua manusia memiliki ide tentang Tuhan. Sementara itu, bahwa realitas (kenyataan) lebih sempurna daripada ide manusia. Sebab itu, Tuhan pasti ada dan realitas ada-Nya itu pasti lebih sempurna daripada ide manusia tentang Tuhan.
2) Argumen kosmologis: Segala sesuatu yang ada mesti mempunyai suatu sebab. Adanya alam semesta – termasuk manusia – adalah sebagai akibat. Di alam semesta terdapat rangkaian sebab-akibat, namun tentunya mesti ada Sebab Pertama yang tidak disebabkan oleh yang lainnya. Sebab Pertama adalah sumber bagi sebabsebab yang lainnya, tidak berada sebagai materi, melainkan sebagai “Pribadi” atau “Khalik”.
3) Argumen Teleologis: Segala sesuatu memiliki tujuan (contoh: mata untuk melihat, kaki untuk berjalan dsb.). Sebab itu, segala sesuatu (realitas) tidak terjadi dengan sindirinya, melainkan diciptakan oleh Pengatur tujuan tersebut, yaitu Tuhan.

4) Argumen Moral: Manusia bermoral, ia dapat membedakan perbuatan yang baik dan yang jahat, dsb. Ini menunjukkan adanya dasar, sumber dan tujuan moralitas. Dasar, sumber, dan tujuan moralitas itu adalah Tuhan.

untuk membaca selengkapnya klik judul jurnal dibawah ini, full pdf..

Keharusan Dan Kemungkinan Pendidikan

2020-08-25T13:32:40+00:00

Contact Info

JL. T. Imam Bonjol, No. 16-A, Kota Tebing Tinggi, Tambangan Hulu, Padang Hilir, Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara 20998

Phone: (0621) 326545

Fax: -

Web: staistebingtinggideli.ac.id

Berita